ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Antara Kebiasaan, Kaidah, dan Ketepatan Berbahasa

Bahasa hidup karena dipakai. Namun justru karena dipakai setiap hari, bahasa kerap luput dari perhatian penuturnya. Banyak bentuk bahasa yang terasa “biasa” dan “wajar”, padahal secara kaidah tidak tepat. Di sinilah peran Penasihat Bahasa menjadi penting: bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membimbing penggunaan bahasa yang cermat, sadar, dan bertanggung jawab.
Bahasa yang Benar, atau Bahasa yang Biasa?
Salah satu problem kebahasaan paling umum adalah pertentangan antara kebiasaan dan kaidah. Contohnya:
– merubah (biasa dipakai) → mengubah (baku)
– diantara → di antara
– sekedar → sekadar
Bentuk-bentuk tidak baku ini sering dianggap benar karena sering digunakan, bahkan oleh figur publik, media massa, dan institusi resmi. Padahal, kebiasaan tidak otomatis mengesahkan kaidah.
Namun demikian, Penasihat Bahasa tidak berdiri pada posisi kaku. Bahasa juga mengenal variasi konteks: ragam resmi, ragam santai, ragam ilmiah, dan ragam sastra. Yang menjadi soal bukan sekadar “benar atau salah”, melainkan tepat atau tidak tepat pada tempatnya.
Kesalahan yang Sering Dianggap Sepele
Beberapa persoalan bahasa yang kerap muncul dalam naskah akademik, media, maupun percakapan publik antara lain:
Pemakaian kata depan di dan ke
Masih banyak penulis yang menulis disini, kemana, atau ditempat tanpa spasi.
Pemborosan kata
Ungkapan seperti para siswa-siswa, naik ke atas, atau turun ke bawah memperlihatkan ketidakefisienan bahasa.
Salah kaprah makna kata
Kata acuh sering dipakai dengan makna “tidak peduli”, padahal makna bakunya justru “peduli”.
Pengaruh bahasa asing tanpa adaptasi
Misalnya penggunaan di mana sebagai penghubung kalimat, meniru struktur bahasa Inggris.
Kesalahan-kesalahan ini tampak kecil, tetapi jika dibiarkan, dapat membentuk kebiasaan kolektif yang menjauh dari ketelitian berbahasa.
Bahasa, Etika, dan Tanggung Jawab
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cermin sikap intelektual. Ketepatan berbahasa menunjukkan ketelitian berpikir. Dalam konteks akademik, kesalahan bahasa dapat mengaburkan makna; dalam konteks publik, bahasa yang serampangan dapat menyesatkan.
Karena itu, Penasihat Bahasa hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menyediakan ruang dialog. Setiap pertanyaan bahasa—sekecil apa pun—adalah pintu menuju kesadaran berbahasa yang lebih baik.
Ruang Konsultasi Terbuka
Rubrik Penasihat Bahasa di LiteraZee membuka ruang bagi pembaca untuk:
– menanyakan bentuk kata atau kalimat yang diragukan
– mendiskusikan perbedaan ragam bahasa
– membahas fenomena bahasa aktual di media dan masyarakat
– menguji ketepatan istilah dalam tulisan ilmiah maupun populer
Bahasa yang baik bukan bahasa yang sempurna, melainkan bahasa yang disadari dan terus diperbaiki.

